Katekese

KURBAN YANG BERKENAN KEPADA ALLAH (2) – Katekese 17 Juni 2018

Misteri Paskah Kristus:Puncak Rencana Keselamatan Allah

Hidup kekal itu diberikan Kristus melalui Misteri Paska-Nya, yaitu melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. “Allah tidak menyayangkan Yesus Putera-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita” (Rom 8:32), para pendosa. Maka, alasan Kristus untuk datang ke dunia adalah untuk wafat dan menjadi tebusan atas dosa-dosa kita. Karena itu, layaklah jika Ia mewariskan kenangan wafat-Nya itu, yang menjadi Perjanjian Baru dan Kekal antara kita manusia dengan Tuhan. Gereja lahir dari Misteri Paska Kristus, sehingga oleh karena itu Ekaristi yang merayakan Misteri Paska Kristus, berada di pusat kehidupan Gereja. ((lih. Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 3))

Maka Perayaan Ekaristi (Kurban Misa kudus) merupakan kurban Tubuh dan Darah Yesus Kristus, yang sungguh hadir di altar di dalam rupa roti dan anggur, yang dipersembahkan kepada Tuhan demi pengampunan dosa umat manusia. Kurban Misa adalah kurban yang satu dan sama dengan kurban Kristus di kayu salib, di mana dulu Kristus mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban yang berdarah, kepada Allah Bapa, dan kini Ia terus mempersembahkan Diri-Nya dengan cara yang tidak berdarah di altar, melalui pelayanan para imam-Nya, untuk mendatangkan keselamatan bagi umat-Nya. ((lih. KGK 1367)) Perayaan Ekaristi juga merupakan sebuah peringatan akan Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Tuhan Yesus. Perayaan ini dilakukan oleh Gereja karena Gereja menaati kehendak Yesus sendiri yang berpesan, “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku.” (Luk 22:19). Pada setiap perayaan Ekaristi, kita, secara rohani dibawa kepada Triduum Paska, yaitu sejak Perjamuan Terakhir, sengsara-Nya di Taman Getsemani, jalan salib-Nya dan wafat-Nya di salib di Golgota, sampai dengan kebangkitan-Nya di hari raya Paska. ((Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 3-5))
Selain sebagai Kurban, Kristus juga sebagai Imam

Selain sebagai penggenapan kurban Paska Perjanjian Lama, Kristus juga adalah penggenapan Imam menurut peraturan Melkisedek (lih. Ibr 5:6; Mzm 110:4). Di Perjanjian Lama, Melkisedek adalah Raja Salem yang mempersembahkan kurban dalam rupa roti dan anggur kepada Allah. Dengan demikian dalam rupa roti dan anggur (lih. Kej 14:18) inilah juga kurban Yesus dinyatakan, dengan Kristus sendiri bertindak sebagai imam-Nya. (lih. Ibr 7:26-27).

Dalam Ekaristi, selain sebagai Kurban, Kristus juga bertindak sebagai Imam yang mempersembahkan Kurban. Dalam hal inilah kita mengatakan bahwa di dalam Perayaan Ekaristi, para imam/ pastor menjadi “in persona Christi“, bertindak sebagai Kristus.

Ekaristi adalah Kurban Kristus: Tubuh dan Darah-Nya

Maka dalam Perayaan Ekaristi, Misteri Paska Kristus yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus. Artinya kurban Kristus di salib dibuat selalu hadir ((lih. Ibr 7:25-27, KGK 1364)) dan dengan demikian karya penebusan kita terus dilaksanakan oleh Allah. Jadi perayaan Ekaristi adalah kurban salib Kristus sebab dalam perayaan itu kita mengenangkan Paska Kristus, yang ditandai dengan perkataanNya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu”, dan “cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20). Dalam Ekaristi, Kristus menyerahkan tubuh-Nya untuk kita, dan darah-Nya, “yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Mat 26:28) ((KGK 1366))

Apakah artinya dengan merayakan Ekaristi kita menyalibkan Kristus berkali-kali? Tentu tidak. Sebab yang dihadirkan kembali adalah kurban yang satu dan sama, yaitu kurban Kristus ((lih. KGK 1367)). Oleh karena Kristus telah bangkit dan maut tidak menguasai-Nya lagi, maka penghadiran kembali kurban Kristus ini terjadi tidak dengan cara yang sama dengan kejadian 2000 tahun yang lalu. Di kayu salib-Nya dulu, Kristus secara fisik mencurahkan darah-Nya, namun kini di dalam Ekaristi, kurban tersebut dihadirkan secara sakramental, sehingga kita yang hidup terpisah 2000 tahun dengan zaman Kristus, dapat berdiri di bawah kaki salib-Nya. Dengan kehadiran secara sakramental ini, makna kurban-Nya tetap sama, hanya cara pengorbanannya yang berbeda. Kurban Kristus dalam Ekaristi tetap mendatangkan buah- buahnya yaitu pengampunan dosa-dosa kita. Sebab Kristus tidak terbatas oleh ruang dan waktu dan imamat-Nya tidak berakhir pada kematian-Nya; maka Ia meninggalkan bagi Gereja, suatu kurban yang kelihatan -yaitu kurban-Nya sendiri- untuk dikenang sampai akhir zaman dan agar kekuatan yang menyelamatkan yang mengalir daripadanya dapat dipergunakan untuk pengampu-nan dosa kita manusia ((lih. KGK 1366)); agar manusia dapat dipersatukan kembali dengan Allah dan memperoleh hidup ilahi.

“Pemisahan konsekrasi” antara roti dan anggur merupakan peringatan bahwa dahulu darah Kristus begitu banyak tercurah, seolah terpisahkan dari tubuh-Nya ketika Ia wafat di salib. Namun demikian, kini dalam perayaan Ekaristi, darah Kristus tidak terpisahkan dari tubuh-Nya. Sebab Kristus yang hadir melalui perkataan konsekrasi adalah Kristus yang telah bangkit mulia. Maka Kristus hadir seutuhnya baik dalam rupa roti saja, atau anggur saja. ((lih. KGK 1390))

(Dikutip dari www.katolisitas.org)